Pencarian

Amang Suri: 28 Tahun Mengabdi, Menghidupkan Kembali “Besi Tua” Vespa di Palangka Raya

Selasa, 21 Juli 2026 • 08:00:00 WIB 3 menit baca
Amang Suri: 28 Tahun Mengabdi, Menghidupkan Kembali “Besi Tua” Vespa di Palangka Raya
Suriadi (50) alias Amang Suri serius menangani kerusakan salah satu mesin Vespa milik pelanggan di bengkel miliknya. (Foto Wisanggeni/Katang.id)

KATANG.ID — Di sudut Jalan Riau, Kecamatan Pahandut, tak jauh dari Dermaga Rambang dan aliran Sungai Kahayan, ada sebuah bengkel sederhana yang menyimpan sejarah panjang. Berdiri sejak 1998, tempat ini bukan sekadar bengkel biasa. Ia adalah rumah bagi puluhan cerita, keringat, dan ketekunan yang dijalani oleh Amang Suri—pria yang selama hampir tiga dekade ini dikenal sebagai “dokter” bagi Vespa-Vespa tua yang mulai loyo.

Siang itu, Minggu (19/7/2026), suasana di bengkelnya tampak lengang. Berbeda dengan hari-hari biasa yang selalu ramai dikunjungi pelanggan, hari itu hanya terlihat sosok Amang Suri yang duduk bersila di atas lantai kayu kediamannya, dikelilingi peralatan kerja dan tumpukan komponen mesin. Tangannya yang penuh noda oli bergerak lincah, membongkar satu per satu bagian dari Vespa PTS berwarna merah keluaran tahun 1976. Mesin berkapasitas 90 cc itu terbelah terbuka, menampakkan bagian dalamnya yang butuh perhatian khusus.

“Ulun paling nggak suka kalau disuruh memperbaiki mesin yang sudah banyak dimodifikasi begini,” ujarnya sambil tersenyum menyambut kedatangan Katang.id.

“Lebih nyaman menangani yang masih standar. Lebih mudah dibaca kerusakannya, dan suku cadangnya pun lebih terjangkau,”tambahnya.

Pria kelahiran 1976 asal Kalayan, Banjarmasin Selatan ini, awalnya tak pernah membayangkan akan menghabiskan separuh hidupnya berkutat dengan besi tua dan oli. Saat pertama kali merantau ke Palangka Raya pada 1997, ia hanya bekerja serabutan mengikuti orang lain.

Barulah setahun kemudian, ia memberanikan diri membuka bengkel kecil, awalnya untuk motor-motor Jepang. Namun seiring berjalannya waktu, pelanggan yang membawa Vespa semakin banyak, hingga tanpa sadar bengkelnya berubah menjadi tempat khusus yang kini menjadi rujukan utama.

Awal perjalanannya tak selancar sekarang. Dulu, ia memulai usahanya di Jalan Cilik Riwut Km 5, persis di seberang Lapangan Golf Isen Mulang. Waktu itu pelanggannya hanya segelintir orang. Ia bahkan sempat berpindah lokasi dua kali, pernah berhenti sejenak dan mencoba berdagang keliling ke luar kota. Namun, panggilan “merawat mesin” seolah tak bisa dilepaskan. Pelanggan lama tetap datang ke rumahnya meminta bantuan, hingga akhirnya ia memutuskan kembali membuka bengkel dan menetap di lokasi sekarang.

Kini, di ruang kerjanya, terlihat berbagai jenis Vespa dari berbagai masa. Ada VBB 150 keluaran 1964, PS Strada, Spartan 1984, Excel 200 tahun 1987, hingga PX 150 yang baru saja diproduksi pada 1995. Mulai dari yang masih orisinal hingga yang sudah mengalami perubahan, semuanya pernah lewat di tangannya.

“Paling sering yang masuk ke sini ya tipe PX Exclusive,” ungkapnya.

Kerusakan yang sering ditangani pun beragam. Mulai dari masalah pengisapan bahan bakar hingga kerusakan berat yang mengharuskan mesin dibongkar total. Namun baginya, tantangan itu justru menjadi bagian dari kepuasan ia bekerja.

Untuk urusan suku cadang, Amang Suri mengakui kemudahan zaman sekarang sangat membantu. Jika barang yang dibutuhkan tak ada di Palangka Raya, ia tinggal mengarahkan pelanggan untuk mencarinya lewat toko daring.

“Sekarang serba cepat. Pesan hari ini, tiga hari sudah sampai. Hampir semua suku cadang masih bisa ditemukan,” katanya.

Yang patut dicatat, bengkel ini hanya melayani jasa perbaikan, bukan jual beli kendaraan. Vespa-Vespa yang terparkir di bengkelnya semuanya milik pelanggan. Ia hanya berperan sebagai penghubung jika ada informasi kendaraan yang ingin dijual.

Lebih dari dua dekade berkarya, nama Amang Suri kini sudah melampaui batas kota. Pelanggan datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar Palangka Raya. Di kalangan komunitas Vespa, ia sudah dijuluki sebagai “dokter mesin kanan”. Ya, sebuah penghargaan tak resmi atas ketelatenan dan keahliannya menghidupkan kembali skuter legendaris yang mulai berusia.

Bagi Amang Suri, Vespa bukan sekadar kendaraan tua. Di balik bodi yang mulai memudar catnya dan mesin yang sudah berpuluh tahun berputar, tersimpan kenangan, cerita pemiliknya, dan nilai sejarah yang layak dijaga. Dan selama masih ada Vespa yang butuh tangan terampil, ia siap terus mengulurkan tangannya untuk menjaga nyawa “besi tua” itu tetap hidup dan melaju di jalanan Kota Cantik Palangka Raya. (red/wis)

Bagikan
Redaksi
Profil Penulis Redaksi

Editor: Wisanggeni

Lihat Profil

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks
Katang.ID - Media Berita Kalimantan Tengah TV YouTube

Berita Terkini

Indeks