Pencarian

BMKG: 4 Daerah Hotspot Karhutla Terbanyak di Kalteng, Palangka Raya Udara Paling Buruk

Kamis, 17 September 2026 • 04:36:36 WIB • 2 menit baca
BMKG: 4 Daerah Hotspot Karhutla Terbanyak di Kalteng, Palangka Raya Udara Paling Buruk
Aktivitas seorang petani di kawasan lahan Jalan G Obos Kota Palangka Raya di tengah kondisi kabut asap pekat, Kamis (17/9/2026). (Foto Wisanggeni/Katang.id)

KATANG.ID — Kondisi udara di ibu kota Kalimantan Tengah kini berada di ambang mengkhawatirkan. BMKG mengonfirmasi Kota Palangka Raya masuk dalam empat wilayah dengan jumlah titik panas kebakaran hutan dan lahan terbanyak di provinsi ini.

 

Konsentrasi partikel halus PM2,5 kerap menembus kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Warga kini bukan sekadar menghirup udara yang berkabut asap, mereka menghirup risiko nyata bagi kesehatan.

 

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Anton menyampaikan hal tersebut secara langsung, Kamis (17/9/2026).

 

“Untuk wilayah Palangka Raya, kita termasuk empat besar dengan hotspot terbanyak di Kalimantan Tengah. Saat ini memang hotspot di Palangka Raya masih lumayan banyak,” ujarnya.

 

Kondisi buruk ini datang bukan dari satu sumber saja. Di samping kebakaran yang terjadi tepat di wilayah kota, arah angin turut membawa asap dari daerah tetangga.

 

“Palangka Raya di samping banyak kebakaran di wilayahnya sendiri, anginnya bergerak dari arah tenggara. Jadi ada potensi mendapat kiriman asap dari daerah atau kabupaten sebelah, dalam hal ini Pulang Pisau,” jelas Anton.

 

Dibandingkan dengan Pangkalan Bun, kualitas udara di Palangka Raya ternyata jauh lebih memburuk. Pantauan sensor menampilkan warna merah hingga hitam.

 

“Palangka Raya kondisinya lebih jelek dibandingkan dengan Pangkalan Bun. Dari pantauan kami, PM2,5 di Palangka Raya berkisar berwarna merah dan berwarna hitam,” ungkapnya.

 

Warna merah berarti udara sudah sangat tidak sehat. Jika berubah menjadi hitam, itu artinya berada di tingkat berbahaya.

 

“Artinya sangat tidak sehat dan berbahaya kalau sudah hitam. Berbahaya bagi kesehatan,” tegas Anton.

 

Bayangkan, setiap kali keluar rumah, anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan menanggung risiko yang lebih besar. Napas terasa berat, pandangan kabur, dan aktivitas harian menjadi tantangan.

Kabar yang kurang menguntungkan datang pula dari sisi cuaca. Musim hujan yang dinanti-nanti untuk meredakan api dan membersihkan udara ternyata diprediksi datang lebih lambat dari biasanya.

 

“Untuk prediksi musim hujan tahun 2026 ini, kita prediksi akan lebih mundur dari normalnya sekitar satu, dua atau tiga dasarian,” terangnya.

 

Menurut Anton, hujan akan turun lebih dulu di wilayah utara Kalimantan Tengah, baru perlahan bergerak ke selatan. Khusus Palangka Raya, hujan diperkirakan baru tiba pada dasarian ketiga Oktober 2026 atau sekitar akhir bulan depan.

 

Sejak awal tahun, akumulasi data memperlihatkan gambaran yang jelas. Empat wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi di Kalimantan Tengah adalah Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, Kapuas, dan Kota Palangka Raya.

 

Semua pihak kini berharap hujan datang sesuai jadwal prediksi. Sebab semakin lama tertunda, semakin berat beban yang harus ditanggung warga tentunya. Asap yang makin pekat, kesehatan yang makin terancam, dan harapan yang bergantung pada turunnya hujan. (red)

 

Follow katang.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks
Katang.ID - Media Berita Kalimantan Tengah TV YouTube

Berita Terkini

Indeks