Pencarian

Kualitas Udara Palangka Raya Naik Turun, Pagi Hari Masuk Kategori Tidak Sehat Akibat Asap Karhutla

Rabu, 12 Agustus 2026 • 12:15:00 WIB • 2 menit baca
Kualitas Udara Palangka Raya Naik Turun, Pagi Hari Masuk Kategori Tidak Sehat Akibat Asap Karhutla
Seorang anak sekolah dasar harus menggunakan masker ketika kualitas udara di Kota Palangka Raya memasuki kategori tidak sehat akibat asap karhutla, beberapa hari belakang ini. (Foto Wisanggeni/Katang.id)

KATANG.ID — Udara yang dihirup pagi hari di Kota Palangka Raya bisa saja terasa segar sebentar, lalu seketika berubah menjadi pekat menyengat. Inilah kenyataan pahit yang dirasakan warga Kota Palangka Raya, Rabu (12/8/2026). Kualitas udara naik turun tak menentu, dari kategori baik, berubah sedang, hingga masuk kategori tidak sehat hanya dalam hitungan jam.

 

Pantauan resmi dari BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut mencatat, kondisi udara memburuk tajam pada pukul 07.00 dan 10.00 pagi. Saat itu, kadar partikel halus PM2.5 melonjak tinggi. Debu halus hasil pembakaran hutan dan lahan terus melayang di udara. Hal itu membuat siapa pun yang menghirupnya merasa perih di mata, sesak di dada, dan tenggorokan terasa gatal.

 

“Kualitas udara berubah-ubah. Bisa baik, lalu sedang, lalu masuk kategori tidak sehat. Puncaknya pagi pukul tujuh dan sepuluh,” ujar Renianata, Prakirawan BMKG ketika memaparkan data pantauan terbaru.

 

Menurutnya, naik turunnya kualitas udara ini sangat dipengaruhi dua hal. Yakni banyaknya titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kecepatan dan arah angin.

Sebab, saat angin berhembus pelan atau tenang, asap menumpuk di satu tempat. Langit tetap cerah, namun napas terasa berat. Begitu angin bergerak cukup kencang, gumpalan asap terbawa ke daerah lain, dan udara seketika terasa lebih lega.

 

“Semakin banyak titik api di sekitar wilayah, semakin pekat asapnya. Kalau angin pelan, asap menumpuk di sini. Kalau berhembus kencang, terbawa ke daerah lain,” jelas Renianata menggambarkan situasi yang terus berubah setiap saat.

 

Saat ini BMKG terus memantau kualitas udara di wilayah Kalimantan Tengah melalui dua pos pengamatan utama, Kota Palangka Raya dan Pangkalan Bun. Keduanya dipantau menggunakan alat ukur partikel halus PM2.5 , ukuran debu dan asap yang paling berbahaya bagi paru-paru, terutama anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

 

Meski cuaca pada Rabu (12/8/2026) terpantau cerah, kejernihan langit tak menutupi kenyataan bahwa lapisan asap masih melayang rendah di atas permukaan kota. Musim kemarau yang kian memuncak membuat potensi kebakaran semakin besar, dan setiap perubahan arah angin bisa membawa dampak langsung pada apa yang kita hirup sehari-hari.

 

Asap karhutla tak memandang siapa yang terkena. Semua bisa merasakan dampaknya.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau seluruh masyarakat agar selalu memantau perkembangan kualitas udara. Saat udara masuk kategori tidak sehat, kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan masker yang tepat dan pas, perbanyak minum air, serta jaga daya tahan tubuh. (red/wis)

 

Follow katang.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks
Katang.ID - Media Berita Kalimantan Tengah TV YouTube

Berita Terkini

Indeks