Pencarian

Tinggalkan Keluarga, 8 Jam Menjinakkan Api Gambut di Tumbang Nusa Pulang Pisau

Jumat, 31 Juli 2026 • 15:00:00 WIB 2 menit baca
Tinggalkan Keluarga, 8 Jam Menjinakkan Api Gambut di Tumbang Nusa Pulang Pisau

Ringkasan AI

  • Personel UPT KPHP Barito Tengah menyempatkan istirahat di sela roses pemadaman karhutla di kawasan Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau. (ist)

*Ringkasan ini dibuat dengan bantuan AI

KATANG.ID-Asap pekat masih mengepul di kejauhan, menyelimuti langit Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya. Di tengah kobaran api yang tak kenal lelah melahap hamparan lahan gambut, ada sosok yang rela melepaskan pelukan hangat keluarga demi menjaga keselamatan banyak orang. Ia adalah Helmi Hadi, Koordinator UPT KPHP Barito Tengah, yang kini berdiri tegak di garis depan penanganan kebakaran hutan dan lahan.

 

Bukan perjalanan singkat yang ditempuhnya. Bersama enam personel lainnya, Helmi berangkat dari Muara Teweh pada Selasa pukul 14.00 WIB. Melintasi berjam-jam perjalanan yang melelahkan, mereka baru sampai di lokasi sekitar tengah malam. Tanpa waktu istirahat yang layak, keesokan paginya mereka sudah harus turun langsung berhadapan dengan si jago merah.

 

“Kami berangkat siang, tiba tengah malam. Besok paginya langsung turun ke lapangan memadamkan api,” kenang Helmi.

 

Ini adalah pengalaman pertamanya menangani kebakaran di lahan gambut. Medan yang tak biasa sempat menjadi tantangan berat. Awalnya terjadi sedikit kesalahpahaman dalam menentukan teknik penanganan, terutama saat harus menyesuaikan arah tiupan angin yang berubah-ubah.

 

“Pertama kali bertugas di gambut, kami belum terbiasa. Sempat ada miskomunikasi soal cara memadamkan, terutama mengikuti arah angin,” akuinya jujur.

 

Namun pengalaman ditempa kerja keras. Beberapa hari berlalu, koordinasi antaranggota tim semakin padu. Kini tujuh orang itu bergerak dalam satu komando yang utuh, menyusun strategi lebih matang dengan tetap mengutamakan keselamatan jiwa masing-masing.

 

“Sekarang sudah satu komando. Yang paling utama kami jaga adalah keselamatan saat bekerja,” tegas Helmi.

 

Di balik seragam yang penuh debu dan noda asap, tersimpan kerinduan yang mendalam. Sudah beberapa hari ia tak mendengar tawa anak-anaknya, tak bisa berbagi cerita dengan istrinya setelah seharian beraktivitas. Rutinitas biasa seperti berolahraga bersama kini tergantikan sepenuhnya oleh perjuangan di tengah panasnya api.

 

“Waktu bersama keluarga pasti berkurang. Sudah beberapa hari saya tinggalkan istri dan anak. Biasanya masih sempat berolahraga, sekarang fokus sepenuhnya di lapangan,” ucapnya dengan nada yang sedikit melembut.

 

Meski berat berpisah dari orang-orang tercinta dan menghadapi medan yang sulit, Helmi dan rekan-rekannya tak berniat mundur. Bagi mereka, menjaga hutan dan melindungi masyarakat adalah panggilan hati yang lebih besar dari sekadar tugas pekerjaan.

Mereka berdiri di sana, bukan hanya sebagai petugas, melainkan sebagai benteng terakhir yang siap berkorban sampai api benar-benar padam dan aman kembali bagi semua. (red/wis)

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks
Katang.ID - Media Berita Kalimantan Tengah TV YouTube

Berita Terkini

Indeks