Kebakaran Lahan 10 Hektar Melanda Lamandau, Tim Pemadam Berjuang Jinakkan Api di Tengah Kesulitan Akses
KATANG.ID — Api berkobar melahap lahan persawahan dan semak belukar di Desa Batu Kotam, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau. Hampir 10 hektar tanah gambut hangus terbakar dalam sekejap. Tim gabungan bergegas turun ke lokasi, berjuang melawan si jago merah di tengah medan berat, akses sulit, dan air yang nyaris tak tersedia. Warga pun ikut tergugah bahu-membahu menjaga lingkungan tercinta tetap aman.
Insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini terjadi pada Selasa, 4 Agustus 2026. Kabar berkobarnya api pertama kali diterima anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Lamandau dari laporan anggota Tagana, Nobon yang disampaikan kepada petugas piket Riki Candra. Tanpa menunggu lama, pasukan langsung diberangkatkan menuju titik kejadian pada pukul 14.45 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lamandau, Hendikel, menjelaskan bahwa kobaran api membakar vegetasi semak belukar di atas tanah gambut. Jenis kebakaran yang terjadi meliputi tipe permukaan hingga ke dalam lapisan gambut. Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 10 hektar.
“Api membakar vegetasi semak belukar di atas tanah gambut dengan tipe kebakaran permukaan dan dalam. Luas area yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 10 hektar,” terang Hendikel,Rabu (5/8/2026).
Pemadaman tak bisa dilakukan sendirian. Beragam unsur berdatangan bersatu padu. BPBD Kabupaten Lamandau, Babinsa, Polsek Bulik, Bhabinkamtibmas, Tagana, karyawan PT BGA, hingga Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA). Semua bahu-membahu berjuang menahan laju api agar tak meluas ke pemukiman dan lahan warga.
Berbagai peralatan pun dikerahkan sepenuhnya. Dua unit mobil slip on, satu unit mobil pick up, sepeda motor, dua unit mesin apung, belasan roll selang, nozzle, parang, lima unit HT, hingga drone untuk pemantauan dari udara disiapkan guna menjinakkan kobaran api. Sumber air diambil seadanya dari parit galian terdekat.
Namun medan tak sepenuhnya berpihak. Jalan menuju titik kebakaran sangat sulit dilalui. Apalagi sumber air yang tersedia sangat terbatas. Di atas tanah gambut yang kering, api tak hanya menjalar di permukaan, tetapi juga menyembunyikan bara di dalam lapisan tanah. Ini membuat para petugas menjadi jauh lebih berat.
“Kendala utama yang dihadapi tim di lapangan adalah minimnya ketersediaan sumber air serta akses jalan menuju titik kebakaran yang tergolong sulit,” tambah Hendikel.
Upaya pemadaman berlangsung tak kenal lelah hingga pukul 17.50 WIB. Meski begitu, api belum sepenuhnya padam. Sifat tanah gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan membuat kobaran masih berpotensi muncul kembali. Sebelum meninggalkan lokasi, seluruh personel memastikan kelengkapan dan keselamatan rekan-rekannya, lalu kembali ke Posko TRC-PB dengan harapan api tak kembali berkobar.
Hingga berita ini ditayangkan, penyebab pasti kebakaran di area persawahan tersebut masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Di tengah musim kemarau yang makin kering, peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua. Ya, satu percikan api bisa merugikan banyak orang. Hati-hati dengan api di ladang maupun di kebun, demi keselamatan bersama.(red/wis)