Pemadaman Listrik Bergilir di Palangka Raya: Berulang Mengganggu Rumah Tangga dan Tempat Usaha

Riduwan, warga Kelurahan Pahandut Seberang, Kota Palangka Raya saat memperbaiki mesin genset untuk digunakan sebagai cadangan tenaga listrik di rumahnya. (Foto Wisanggeni/Katang.id)
Penulis: Redaksi
Senin, 29 Juni 2026 | 16:35:00 WIB

KATANG.ID – Selama dua pekan terakhir sudah, suasana di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya terasa berbeda. Bukan karena cuaca atau pergantian musim, melainkan karena aliran listrik yang sering kali menghilang secara tiba-tiba.

 

Pemadaman listrik bergilir yang terjadi berulang kali tanpa pemberitahuan jelas telah menimbulkan keresahan di kalangan warga rumah tangga maupun pelaku usaha, hingga mengganggu ritme kehidupan dan perekonomian sehari-hari.

 

Di lingkungan Jalan Ramin 1, Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut, Trilina Widyanti (49) sudah merasakan dampaknya secara langsung. Dalam satu pekan terakhir, rumahnya dua kali kehilangan aliran listrik. Peristiwa terberat terjadi pada Minggu, 28 Juni 2026, ketika lampu padam selama sekitar tiga jam—dimulai pukul dua siang hingga menjelang waktu Magrib.

 

“Sudah dua kali terjadi di tempat kami. Yang terakhir itu berlangsung cukup lama, dari siang sampai hampir sore,” ujar Trilina saat ditemui, Senin (29/6/2026)

 

Gangguan ini tidak hanya terasa di kediamannya. Tempat usaha menjahit yang ia kelola di kawasan Pasar Kahayan juga tak luput dari dampak yang sama. Tanpa aliran listrik, mesin jahit tidak bisa beroperasi, membuatnya terpaksa menutup tempat usaha lebih awal.

 

“Bagaimana bisa bekerja? Kalau mati listrik hampir seharian, saya tidak bisa melayani pesanan. Akhirnya toko harus tutup dan saya kerjakan sisa pekerjaan yang memungkinkan di rumah saja,” keluhnya.

 

Keresahan serupa juga datang dari Riduwan (65), warga Kelurahan Pahandut Seberang, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya. Ia mencatat dalam dua kali kejadian terbaru, pemadaman berlangsung lebih dari empat jam. Agar aktivitas rumah tangga tetap berjalan, ia tidak punya pilihan selain memperbaiki dan menyiapkan mesin genset (generator set) sebagai cadangan tenaga.

 

“Terpaksa saya harus merawat dan menyalakan genset kalau listrik mati. Kalau terus-terusan begini, selain repot, saya juga khawatir alat-alat elektronik di rumah bisa rusak karena perubahan arus yang mendadak,” ungkapnya.

 

Dampak pemadaman ini ternyata meluas hingga menyentuh sendi perekonomian lokal, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu contohnya terlihat pada sebuah kedai kopi di Jalan Hendrik Timang, tepatnya di kompleks Kampus Universitas Palangka Raya (UPR).

 

Menurut Fernando, pengelola kedai tersebut, pemadaman yang datang tanpa jadwal jelas sangat mengganggu momen-momen sibuk usaha.

 

“Dampaknya langsung terasa pada jumlah pelanggan. Mereka yang sudah datang ingin bersantai atau bekerja di sini akhirnya pergi begitu saja. Apalagi kami masih dalam tahap merintis dan membangun kepercayaan pasar, kejadian ini sangat menghambat langkah kami,” jelasnya.

 

Lebih dari sekadar kehilangan pendapatan harian, Fernando mengungkapkan risiko yang lebih besar. Mesin-mesin pembuat kopi yang membutuhkan suplai listrik stabil dan terus-menerus sangat rentan mengalami kerusakan jika diputus secara tiba-tiba. Biaya perbaikan peralatan tersebut bisa mencapai angka yang tidak sedikit bagi usaha skala kecil milikya itu.

 

“Kalau listrik mati mendadak, itu berbahaya bagi kondisi mesin. Bisa saja terjadi kerusakan komponen yang biaya perbaikannya mahal. Kami harus ekstra waspada, tapi rasanya sulit jika tidak tahu kapan hal ini akan terjadi,” tambahnya.

 

Melihat situasi yang terus berulang, warga dan pelaku usaha menyampaikan harapan agar ada perbaikan dari pihak berwenang. Mereka meminta agar informasi terkait jadwal pemadaman disampaikan secara lebih luas, jelas, dan tepat waktu.

 

“Harapan kami kepada Pemerintah Kota Palangka Raya dan PLN, tolong berikan informasi yang lebih transparan. Terutama bagi kami para pelaku usaha, dengan tahu jadwalnya setidaknya kami bisa menyiapkan langkah antisipasi, sehingga tidak terkejut dan merugi secara mendadak,” pungkas Fernando.

 

Di sisi lain, sebelumnya Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, meminta masyarakat untuk lebih bersabar menyikapi pemadaman listrik bergilir yang terjadi akibat gangguan pada sistem kelistrikan interkoneksi Kalimantan.

“Ini ada gangguan dari PLTGU di interkoneksi Kalimantan. Kejadian ini tidak hanya di Palangka Raya, tapi juga beberapa wilayah lain,” kata, Sabtu (27/6/2026).

Dia menjelaskan, bahwa gangguan tersebut menyebabkan berkurangnya pasokan daya sehingga berdampak pada sejumlah daerah yang terhubung dalam jaringan interkoneksi Kalimantan.

“Informasi yang kami terima dari PLN, proses perbaikan masih terus dilakukan dan diupayakan agar kondisi kelistrikan bisa segera kembali normal,” ujarnya.

Selama proses pemulihan berlangsung, PLN menerapkan pengaturan beban melalui pemadaman bergilir untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan.

“Artinya dilakukan pengaturan beban. Yang menjadi prioritas akan didahulukan, seperti kebutuhan listrik di rumah tangga maupun sektor penting lainnya,” jelasnya seraya mengakui bahwa kondisi tersebut cukup memengaruhi aktivitas masyarakat, terutama pelaku usaha yang bergantung pada pasokan listrik untuk menjalankan kegiatan produksi dan pelayanan. (red/wis)

Reporter: Redaksi