Pencarian

Mandi Safar, Sarana Pembelajaran Sekaligus Memperkuat Identitas Daerah

Jumat, 14 Agustus 2026 • 09:00:00 WIB • 2 menit baca
Mandi Safar, Sarana Pembelajaran Sekaligus Memperkuat Identitas Daerah
Wakil Bupati Kotim Irawati. Menghadiri mandi safar di Pasar Kamis, Kelurahan Kota Besi Hilir, Kecamatan Kota Besi, Rabu (12/8). (FOTO : PROKOPIM)

SAMPIT, KATANG.ID – Wakil Bupati Kotim Irawati. Menyaksikan langsung kegiatan tradisi Mandi Safar di Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (12/8/2026).

“Mandi Safar ini merupakan tradisi yang sudah mengakar turun-temurun. Bukan sekadar mandi di sungai, tetapi wujud syukur, tolak bala dan doa bersama agar kita dijauhkan dari marabahaya, penyakit, dan segala bentuk musibah,” kata Irawati saat membuka kegiatan, Rabu (12/8)

Ia menjelaskan, pelaksanaan Mandi Safar tahun ini bertepatan dengan Arba Mustamir. Yakni Rabu terakhir pada bulan Safar yang oleh sebagian masyarakat dimaknai sebagai momentum untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Rangkaian kegiatan tidak hanya diisi dengan mandi bersama. Zikir, doa, silaturahmi dan berbagai kegiatan kebersamaan turut mewarnai pelaksanaan tradisi tersebut.

Irawati menilai Mandi Safar memiliki nilai yang lebih luas, baik sebagai warisan budaya maupun sarana memperkuat hubungan sosial masyarakat.

“Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur, saya menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan tradisi seperti Mandi Safar sebagai kekayaan budaya lokal yang harus kita jaga,” ujarnya.

Meski demikian, Irawati mengingatkan pelestarian budaya harus tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai agama. Tradisi yang diwariskan leluhur perlu dijaga agar pelaksanaannya tidak bertentangan dengan syariat maupun akidah.

Menurutnya, keberadaan tradisi lokal juga menjadi modal sosial penting bagi Kotim yang memiliki masyarakat dengan latar belakang suku, agama dan budaya yang beragam.

Irawati juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Menurutnya, budaya lokal harus terus diperkenalkan kepada anak-anak muda agar tidak tergerus perubahan zaman.

Tradisi tersebut, lanjutnya, dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus memperkuat identitas daerah. Namun, generasi muda juga tetap harus mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Ramadansyah melihat Mandi Safar sebagai salah satu potensi wisata budaya yang layak dikembangkan.

Ia mengatakan, kegiatan yang tumbuh dan bertahan karena partisipasi masyarakat memiliki nilai lebih dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas.

“Kami mendorong setiap kelurahan dan desa untuk mengembangkan potensi wisata yang dimiliki, salah satunya kegiatan Mandi Safar yang sudah rutin tahunan. Ini perlu kita kemas kembali agar muncul dari masyarakat sendiri,” kata Ramadansyah.

Ramadansyah menambahkan, peluang pengembangan pariwisata Kotim semakin besar dengan semakin terbukanya akses transportasi menuju daerah tersebut.

Menurutnya, konektivitas penerbangan seperti rute Sampit-Jakarta dan Sampit-Surabaya dapat menjadi pendukung untuk mendatangkan wisatawan dari luar daerah.

“Dengan semakin terbukanya akses ke daerah kita, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya dengan memaksimalkan potensi yang ada. Kita harus mengeksplorasi potensi tersebut untuk menjadikan daerah kita sebagai tujuan wisata,” ucapnya.(boe)

Follow katang.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks
Katang.ID - Media Berita Kalimantan Tengah TV YouTube

Berita Terkini

Indeks