Ini Faktor Risiko Pemicu Strok yang Wajib Dikenali

Ilustrasi: Serangan pembuluh darah yang mengenai otak. (RS Royal Progress)
Penulis: Redaksi
Rabu, 24 Juni 2026 | 17:07:00 WIB

KATANG.ID-Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Ramdinal Aviesena Zairinal, mengatakan bahwa strok dapat dipicu oleh berbagai faktor risiko, terutama yang memengaruhi pembuluh darah.

Strok sendiri merupakan penyakit vaskular atau menyerang di pembuluh darah yang mengenai otak, sehingga masalah pada pembuluh darah berpotensi memicu risiko terjadinya strok. 

“Ketika strok ini terjadi, memang ada banyak faktor risiko yang terlibat di sana. Ada darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol, misalnya ada keturunan,” ungkapnya dilansir dari ANTARA

Lebih lanjut, dia menjelaskan ketika seseorang mengalami strok juga dapat disebabkan masalah lain yang sudah terjadi sebelumnya, seperti darah tinggi, diabetes, atau sakit jantung. Pasien yang mengalami strok pun dikatakan perlu dilakukan penanganan masalah yang lain di samping terhadap kondisi tersebut.

Terdapat beberapa faktor lain juga yang bisa menyebabkan seseorang itu terkena strok. Misalnya, ada riwayat faktor genetik dari keluarganya, atau kelainan dari pembuluh darahnya, gangguan kekentalan darah, maka juga bisa menyebabkan seseorang terkena strok.

Sena menyampaikan banyak studi telah menunjukkan ada riwayat keluarga itu memang meningkatkan risiko stroke. Bahkan, literatur yang menyebutkan bisa mencapai sekitar 20 persen jika pasien yang mengalami strok itu punya riwayat keluarganya yang juga strok. 

“Dan itu menunjukkan bahwa ketika ada orang tua yang mengalami stroke, maka penting sekali untuk keturunannya, anak-anaknya itu, untuk menjaga pola hidupnya, mendeteksi dini faktor risikonya,“ ujar dia.

Sena juga menyoroti seiring zaman, kasus strok kini semakin bermunculan kemungkinan dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan perkembangan teknologi.

“Memang strok ini menjadi suatu tantangan ya. Saya masih ingat ketika mungkin 20 tahun lalu itu semboyannya masih kayak kita bilangnya ‘satu dari enam’ akan mengalami strok. Tapi kalau sekarang bahkan bisa ‘satu dari empat’, artinya itu semakin banyak,” imbuh dia.

Sena mengatakan awareness atau kesadaran bagi masyarakat untuk berobat, memeriksakan diri itu semakin meningkat, sehingga temuan kasusnya pun lebih banyak dibandingkan zaman dahulu.

Perubahan gaya hidup, lanjut Sena, kemungkinan penyebab banyak pasien strok. Hal ini lantaran seiring zaman ada banyak perubahan termasuk pola makan, yang tadinya natural food menjadi ultra-processed food.

Kemudian, perkembangan teknologi yang membantu sehingga membuat jarang bergerak. Perubahan kebiasaan tersebut turut meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah, termasuk strok. (red)

 

Reporter: Redaksi